Langsung ke konten utama

Saja' dalam Kitab Jauhar al Maknun Karya Al-Akhdhari

 

 

Analisis Saja’ Pada Kitab Jauhar Al-Maknun Karya Abdurrahman Al-Akhdhari

 

A.    Latar Belakang Masalah

Setiap bahasa memiliki karakter dan keistimewaannya masing-masing, tak terkecuali bahasa Arab. Sejak munculnya agama Islam dengan kitab sucinya, yaitu Al-Qur’an, maka bahasa Arab bukan saja sebagai alat komunikasi yang digunakan oleh bangsa di semananjung Arabia, akan tetapi menjadi bahasa agama yang semua orang Islam di seluruh dunia mempelajarinya karena mayoritas ritual ibadah agama Islam harus menggunakan bahasa Arab.

Tidak hanya itu, kemuncualan Al-Quran sebagai mukjizat seakan stimulus kepada para cendikiawan muslim untuk menggali dengan serius segala aspek yang berkaitan dengan Al-Quran. Salah satunya adalah di bidang kebahasaan. Al-Quran yang setiap ayatnya ditulis begitu indah dan bahkan Allah telah menantang untuk mendatangkan satu surat yang serupa dengan keindahan Al-Quran dan niscaya tidak ada yang mampu untuk menjawab tantangan itu. Oleh sebab itu, para cendikiawan muslim hanya berusaha menggali dan mengupas setiap ayat dalam Al-Quran –salah satunya dari segi kebahasaan- agar mereka lebih merasakan keagungan mukjizat Al-Quran.

Di antara bidang kajian para ulama ialah dalam aspek balaghah. Orang yang pertama kali mengkaji dan memahami Al-Quran melalui pendekatan ilmu balaghah secaara sistematis adalah Abdul Qahir al Jurjani. Menurutnya bahwa kemukjizatan Al-Quran bisa dilihat dari tiga aspek. Pertama, Al-Quran menceritakan hal-hal yang gaib dan peristiwa yang akan terjadi di masa depan. Kedua,  menceritakan tentang kisah-kisah orang-orang terdahulu baik yang baik maupun yang jahat. Dan ketiga, dari aspek susunan dan rangakaian kata serta gaya bahasa yang digunakan di dalam Al-Quran. [1]

Pada aspek kesatu dan kedua, kita hanya cukup mengimani dan mempercayai saja serta mengambil hikmah dan pelajaran tanpa harus bersusah payah untuk mencari validitas dari informasi tersebut, baik itu berita akan peristiwa yang akan datang atau pun berita tentang orang-orang yang telah lalu. Sedangkan pada aspek ketiga, setiap orang akan berbeda-beda dalam memahami mukjizat Al-Quran tergantung dengan keilmuan yang dimilkinya. Oleh karena itu pada aspek ini, senuanya dituntut untuk mencari dan mengungkap kemukjizatan Al-Quran agar mereka semakin yakin terhadap kebenarannya.

Ilmu balaghah

 

B.     Metode Penelitian

Metode berasal dari kata methodos, bahasa Latin, sedangkan methodositu sendiri berasal dari akar kata meta dan hodos. Meta berarti menuju, melalui, mengikuti, sesudah, sedangkan hodos brarti jalan, cara, arah. Dalam pengertian luas metode di anggap cara-cara strategi untuk memahami realitas, langkah-langkah sistematis untuk Metode berasal dari kata methodos, bahasa Latin, sedangkan methodositu sendiri berasal dari akar kata meta dan hodos. Meta berarti menuju, melalui, mengikuti, sesudah, sedangkan hodos brarti jalan, cara, arah. Dalam pengertian luas metode di anggap cara-cara strategi untuk memahami realitas, langkah-langkah sistematis untuk

Metode penelitian adalah cara atau strategi menyeluruh untuk menemukan atau memeperoleh data yang diperlukan. Metode kualitatif merupakan prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan berperilaku yang dapat di amati. Validitas bagi sebuah penelitian adalah hal yang sangat penting, validitas adalah kebenaran dan kejujuran sebuah deskripsi, kesimpulan, penjelasan, tafsiran dan segala jenis laporan.Tugas peneliti adalah menyajikan bukti dan landasan yang kuat sehingga pembaca atas kebenaran.

Metode penelitian yang digunakan dalam menganalisis qashaid al`ainiyyah dalam Antologi Qais bin Dzarih, yaitu dengan menggunakan metode deskriptif analitik. Metode deskriptif analitik adalah suatu metode yang digunakan untuk menemukan dan mengungkapkan pemasalahan sistematik, dengan cara mendeskripsikan data-data dan disusul dengan analisis (Ratna, 2004: 53).

Dengan metode deskriptif analitik tersebut, maka permasalahan yang dikaji pada nazham Jauhar al Maknun ini bisa diungkapkan secara sistematis dengan mendeskripsikan data yang telah ditemukan untuk kemudian dianalisis dengan menggunakan kajian ilmu balaghah yang berfokus pada saja’ yang merupakan sub pembahasan dalam ilmu balaghah.

 

C.     Analisis dan Pembahasan

1.      Biografi Imam Al-Akhdhari

Nama lengkap beliau adalah Abu Yazid Abdur Rahman bin Muhammad ash-Shughayyra bin Amir al-Akhdhari. Al-Akhdhari tersebut di nisbahkan kepada Al-Akhdhar, nama satu bukit di Aljazair. Dari pihak ayah, nasab beliau bersambung hingga salah satu shahabat Rasulullah SAW, al-Abbas bin Mirdas bin Abi Amir as-Sulami.

Terjadi perbedaan pendapat para ahli sejarah tentang tahun kelahiran Imam al-Akhdary. Menurut sebagian ahli sejarah beliau lahir di desa Benthious, Zab bagian barat, Aljazair tahun 910 H/1504 M dan wafat tahun 953 H/1546 M, pendapat yang lain mengatakan beliau lahir tahun 918 H/1512 M dan wafat tahun 953 H/1546 M. Namun kalau melihat keterangan beliau sendiri pada akhir kitab Matan Sulam Munawraq, di mana beliau mengatakan selesai mengarang kitab Matan sulam dalam usia 21 pada tahun 941 H maka dapat di simpulkan bahwa beliau lahir sekitar tahun 920 H. Beliau lahir dalam lingkungan keluarga yang berpegang teguh pada syara` dan membenci perbuatan yang menyalahi kitab dan sunnah. Bapak beliau merupakan seorang ulama yang mengarang hasyiah bagi kitab Sayyidi Jalil. Kakek beliau Syeikh Muhammad bin Amir juga seorang ulama tasawuf.

Beliau mengambil ilmu dari ayah beliau sendiri Muhammad ash-Shughayyar dan dari abang kandung beliau sendiri Syeikh Ahmad. Kemudian beliau belajar kepada para ulama lain dari daerah Zab, antara lain Syeikh Shufi Abdur Rahman bin Laqrun, Syeikh Abu Thaiyib, Syiekh Abdul Hadi al-Fathnasi, kemudian melanjutkan belajar beliau ke Propinsi Konstantin, aljazair dan mengambil ilmu dari Syeikh Umar bin Muhammad al-Kumad al-Anshari al-Qusanthy yang masyhur dikenal dengan nama al-Wazan.

Dalam usia muda beliau telah menguasai berbagai macam ilmu dan telah mengajarkan berbagai macam ilmu seperti Falak, Manthiq, Hisab, Balaghah, lughah, Nahwu, Tauhid, Fiqh, Faraidh dan tasawuf. Beliau menghabiskan masa beliau dalam mengajar dan menyebarkan ilmu selain juga menekuni beribadah kepada Allah. Dalam waktu-waktu tertentu beliau berkhalwat dengan memfokuskan diri untuk berzikir dan beribadah kepada Allah.

Beliau juga mengatur waktu untuk menulis kitab dalam berbagai macam disiplin ilmu. Murid-murid Imam al-Akhdhari berdatangan dari berbagai daerah. Beliau mengajarkan kitab-kitab yang beliau karang sendiri di hadapan para pelajar di kota Benthious, kota tempat makam beliau berada.

Selain itu Imam al-Akhdhari di kenal sebagai seorang ulama sufi yang mustajabah doanya. Imam Ahmad Damanhuri dalam syarah beliau atas matan Sulam, Idhah Mubham mengatakan bahwa “guru beliau mengabarkan dari para guru-gurunya bahwa pengarang (Syeikh Abdur Rahman al-Akhdhari) adalah salah seorang pembesar ulama sufi dan mustajabah doa”. Seperti doa beliau pada muqaddimah Matan Sulam, supaya Allah menjadikan kitab beliau tersebut bermanfaat bagi para pelajar dan menjadi jalan untuk memahami kitab-kitab mantiq yang lebih tinggi. Imam Ahmad Damanhuri mengatakan “sungguh Allah telah mengabulkan permiantaan beliau, setiap orang yang membaca kitab beliau ini dengan sungguh-sungguh, Allah bukakan baginya pemahaman dalam ilmu ini (ilmu mantiq) dan sungguh kami telah menyaksikan demikian”.

 

2.      Analisis Saja’ dalam Kitab Jauhar al-Maknun

Saja’ atau sajak dalam Bahasa Indonesia adalah kesesuaian antra dua fāshilah  pada huruf terakhirnya (Hasyimi, 1999: 330). Menurut Damanhuri (1994: 153), saja’ masih termasuk dalam bagian jinas lafzhi. Mungkin saja alasan dibedakannya pembahasan saja’ dengan bagian-bagian jinas lafzhi lainnya adalah karena saja’ memiliki turunan-turunan yang khas, sehingga jika pembahasannya disatukan, maka sulit untuk dipahami.

Dalam kitab ini, Alakhdari mengemukakan pendapat Imam Sakaki bahwasanya kesesuaian fāshilah dalam natsr sama dengan qāfiyah dalam syaira atau tepatnya dalam istilah ilmu Arudh dan Qowafi. Artinya dua istilah ini sebenarnya sama, hanya saja penempatannya berbeda. Untuk lebih jelasnya coba kita bandingkan contoh natsr dalam alquran dan syair berikut ini.

وَالْمُرْسَلٗتِ عُرْفًا ۞ فَالْعٗصِفَاتِ عَصْفًا

اَلْحَمْدُ للهِ الذِي قَدْ أَخْرَجَا * نَتَائِجَ اْلفِكْرِ لِأَرْبَابِ الْحِجَا

 

Dalam contoh di atas, kata “urfa” dan “’ashfa” disebut saja’, namun ia tidak disebu qafiyah karena ayat Al-Quran bukanlah syair. Sedangkan pada kata “akhroja” dan “alhija” jika ditinjau dari aspek ilmu qawafi, maka akhir kata tersebut disebut dengan qāfiyah dengan sebutan-sebutan yang tertentu pada setiap parsialnya. Tetapi kata tersebut juga bisa disebut saja’ jika ditinjau dari aspek ilmu badi’. Dalam hal ini, maka sebuah syair akan memiliki qāfiyah tapi belum tentu memiliki saja’.

Saja’ terbagi menjadi tiga, yaitu mutharraf, murasha’ dan mutawāzī. Saja’ mutharraf adalah sajak yang antara dua fashilahnya berbeda dalam segi wazan, namun serupa dalam huruf akhir. Contohnya seperti dalam ayat Al-Quran:

مَا لَكُمْ لَاتَرْجُوْنَ للهِ وَقَارًا ۞ وَقَدْ خَلَقَكُمْ أَطْوَارًا

Kata “Wiqārā” dan “athwārā” dalam dua ayat tersebut berbeda wazan. Kata yang pertama mempunyai wazan “fi’ālun” sedangkan kata kedua berwazan “afālun”.

Saja’ murasha’ adalah sajak yang kata-kata dalam suatu faqrah   -baik seluruhnya maupun sebagian besar- mempunyai kesesuaian dengan faqrah yang lain dalam segi wazan dan qafiyah. Contohnya seperti perkataan Hariri:

هُوَ يَطْبَعُ الْأَسْجَاعَ بِجَوَاهِرِ لَفْظِهِ، وَيَقْرَعُ الْأَسْمَاعَ بِزَوَاجِرِ لَفْظِهِ

Jika kita perhatikan, maka kita bisa menemukan bahwa semua kata dalam dua faqrah di atas mempunyai kesesuaian dalam segi wazan maupun qafiyahnya.

Adapun saja’ mutawāzī adalah sajak yang hanya sesuai pada kata akhir saja dalam dua faqrah atau lebih. Contohnya seperti dalam firman Allah:

فِيْهَا سُرُرٌ مَّرْفُوْعَةٌ ۞ وَأَكوَابُ مَوْضُوْعَةٌ

Pada ayat tersebut, yang mempunyai kesesuaian baik dari segi wazan maupun qafiyah hanya pada kata-kata terakhir saja. Adapun kata awalnya (surur dan akwāb) berbeda. (Hasyimi, 1999: 330)

Dalam kitab Jauhar al Maknun, semua bait yang dituliskan oleh pengarang menggunakan saja’. Sudah menjadi ciri khas tersendiri bahwa kitab yang ditulis menggunakan bahr rajaz pasti bersaja’ dalam setiap qafiyahnya. Jika kita meneliti literatur kitab yang dikaji di Pondok Pesantren, maka akan kita dapatkan kitab-kitab yang menggunakan bahr rajaz juga bersajak dalam setiap qafiyahnya, seperti Nazham ‘Imrithi, Alfiyyah ibn Malik, Lathaiful Isyarah, Jauhar al Tauhid, dan lain-lain.

Kitab Jauhar al Maknun terdiri dari 291 bait yang berisi tentang materi-materi ilmu balaghah. Pada penelitian ini, penulis hanya akan menganalisis bab yang terpanjang dalam kitab ini yaitu musnad ilaihi dan beberapa bait lainnya yang dianggap perlu dan penting untuk dianalisis. Berikut adalah uraian dari analisis saja’ dalam kitab Jauhar al Maknun karya Syaikh Abdurrahman al-Akhdhari.

 

            Bait 1

يحذف للعلم ولإختبار        #        مستمع وصحة الإنكار

1.      Lafadz Saja’: الإختبار  dan الإنكار

2.      Jenis Saja’: Muthorof

3.      Alasan: Terdapat keselarasan bunyi antara akhir fashȋlah pertama dan fashȋlah kedua, yang berbeda dalam wazannya tetapi seseuai dalam huruf akhirnya.

Pada syair tersebut, ada dua kata akhir pada setiap syathar/fashilah yang mempunyai bunyi akhir yang sama akan tetapi berbeda dalam pembentukan derivasi atau wazannya, yaitu kata الإختبار dan الإنكا. Yang pertama memiliki wazan إفتعال sedangkan yang kedua berwazan إنفعال. Maka keselarasan ini dinamakan saja’ mutharaf.

           

            Bait 2

ستر وضيق فرصة إجلال   #        وعكسه ونظم استعمال

1.      Lafadz Saja’: إجلال  dan اإستعمال

2.      Jenis Saja’: Mutharaf

3.      Alasan: Terdapat keselarasan bunyi antara akhir fashȋlah pertama dan fashȋlah kedua, yang berbeda dalam wazannya tetapi seseuai dalam huruf akhirnya.

Pada syair tersebut, ada dua kata akhir pada setiap syathar/fashilah yang mempunyai bunyi akhir yang sama akan tetapi berbeda dalam pembentukan derivasi atau wazannya, yaitu kata إجلال dan إستعمال. Yang pertama memiliki wazan إفعال sedangkan yang kedua berwazan إستفعال. Maka keselarasan ini dinamakan saja’ mutharaf.

           

            Bait 3

كحبذا طريقه الصوفية        #        تهدي الى المرتبة العلية

1.      Lafadz Saja’: الصوفية  dan االعلية

2.      Jenis Saja’: Mutharaf

3.      Alasan: Terdapat keselarasan bunyi antara akhir fashȋlah pertama dan fashȋlah kedua, yang berbeda dalam wazannya tetapi seseuai dalam huruf akhirnya.

Pada syair tersebut, ada dua kata akhir pada setiap syathar/fashilah yang mempunyai bunyi akhir yang sama akan tetapi berbeda dalam pembentukan derivasi atau wazannya, yaitu kata الصوفية dan العلية. Yang pertama memiliki wazan فعلة sedangkan yang kedua berwazan فعيلة. Maka keselarasan ini dinamakan saja’ mutharaf.

           

            Bait 4

واذكره للأصل ولإحتياط    #        غباوة إيضاح انبساط

1.      Lafadz Saja’: الإحتياط  dan الإنبساط

2.      Jenis Saja’: Mutharaf

3.      Alasan: Terdapat keselarasan bunyi antara akhir fashȋlah pertama dan fashȋlah kedua, yang berbeda dalam wazannya tetapi seseuai dalam huruf akhirnya.

Pada syair tersebut, ada dua kata akhir pada setiap syathar/fashilah yang mempunyai bunyi akhir yang sama akan tetapi berbeda dalam pembentukan derivasi atau wazannya, yaitu kata إحتياط dan إستعمال. Yang pertama memiliki wazan إفتعال sedangkan yang kedua berwazan إستفعال. Maka keselarasan ini dinamakan saja’ mutharaf.

 

            Bait 5

تلذذ تبرك إعظام             #        إهانة تشاوق نظام

1.      Lafadz Saja’: إعظام  dan نطام

2.      Jenis Saja’: Mutharaf

3.      Alasan: Terdapat keselarasan bunyi antara akhir fashȋlah pertama dan fashȋlah kedua, yang berbeda dalam wazannya tetapi seseuai dalam huruf akhirnya.

Pada syair tersebut, ada dua kata akhir pada setiap syathar/fashilah yang mempunyai bunyi akhir yang sama akan tetapi berbeda dalam pembentukan derivasi atau wazannya, yaitu kata إعطام dan نظام. Yang pertama memiliki wazan إفعال sedangkan yang kedua berwazan فعال. Maka keselarasan ini dinamakan saja’ mutharaf.

 

Bait 6

تعبد تعجب تهويل          #        تقرير أو إشهاد أو تسجيل

1.      Lafadz Saja’: تهويل  dan تسجيل

2.      Jenis Saja’: Mutawȃzi

3.      Alasan: Terdapat keselarasan bunyi antara akhir fashȋlah pertama dan fashȋlah kedua, serta memiliki kesesuaian dalam wazannya.

Pada syair tersebut, ada dua kata akhir pada setiap syathar/fashilah yang mempunyai bunyi akhir yang sama serta pembentukan derivasi atau wazannya, yaitu kata تهويل danتسجيل. Keduanya memiliki wazan yang sama, yaitu تفعيل Maka keselarasan ini dinamakan saja’ mutawazi.

 

            Bait 7

وكونه معرفا بمضمر            #        بحسب المقام في نحو دري

1.      Lafadz Saja’: مضمر  dan دري

2.      Jenis Saja’: Mutharaf

3.      Alasan: Terdapat keselarasan bunyi antara akhir fashȋlah pertama dan fashȋlah kedua, yang berbeda dalam wazannya tetapi seseuai dalam huruf akhirnya.

Pada syair tersebut, ada dua kata akhir pada setiap syathar/fashilah yang mempunyai bunyi akhir yang sama akan tetapi berbeda dalam pembentukan derivasi atau wazannya, yaitu kata مضمر dan دري Yang pertama memiliki wazan مفغل sedangkan yang kedua berwazan فعل. Maka keselarasan ini dinamakan saja’ mutharaf.

 

            Bait 8

والأصل في المخاطب التعيين #        والترك للشمول مستبين

1.      Lafadz Saja’: تعيين  dan مستبين

2.      Jenis Saja’: Mutharaf

3.      Alasan: Terdapat keselarasan bunyi antara akhir fashȋlah pertama dan fashȋlah kedua, yang berbeda dalam wazannya tetapi seseuai dalam huruf akhirnya.

Pada syair tersebut, ada dua kata akhir pada setiap syathar/fashilah yang mempunyai bunyi akhir yang sama akan tetapi berbeda dalam pembentukan derivasi atau wazannya, yaitu kata تعيين dan مستبين. Yang pertama memiliki wazan تفعيل sedangkan yang kedua berwazan مستفعل. Maka keselarasan ini dinamakan saja’ mutharaf.

 

            Bait 9

وكونه بعلم ليحصلا           #        بذهن سامع بشخص أولا

1.      Lafadz Saja’: يحصلا dan أولا

2.      Jenis Saja’: Mutharaf

3.      Alasan: Terdapat keselarasan bunyi antara akhir fashȋlah pertama dan fashȋlah kedua, yang berbeda dalam wazannya tetapi seseuai dalam huruf akhirnya.

Pada syair tersebut, ada dua kata akhir pada setiap syathar/fashilah yang mempunyai bunyi akhir yang sama akan tetapi berbeda dalam pembentukan derivasi atau wazannya, yaitu kata يحصلا dan أولا. Yang pertama memiliki wazan يفعلاsedangkan yang kedua berwazan أفعل. Maka keselarasan ini dinamakan saja’ mutharaf.

 

            Bait 10

تبرك تلذذ عناية             #        إجلال أو إهانة كناية

1.      Lafadz Saja’: عناية  dan كناية

2.      Jenis Saja’: Mutawȃzi

3.      Alasan: Terdapat keselarasan bunyi antara akhir fashȋlah pertama dan fashȋlah kedua, serta memiliki kesesuaian dalam wazannya.

Pada syair tersebut, ada dua kata akhir pada setiap syathar/fashilah yang mempunyai bunyi akhir yang sama serta pembentukan derivasi atau wazannya, yaitu kata عناية danكناية . Keduanya memiliki wazan yang sama, yaitu فعالة Maka keselarasan ini dinamakan saja’ mutawazi.

            Bait 11

وكونه بالوصل للتفخيم        #        تقرير أو هجنة أو توهيم

1.      Lafadz Saja’: تفخيم  dan توهيم

2.      Jenis Saja’: Mutawȃzi

3.      Alasan: Terdapat keselarasan bunyi antara akhir fashȋlah pertama dan fashȋlah kedua, serta memiliki kesesuaian dalam wazannya.

Pada syair tersebut, ada dua kata akhir pada setiap syathar/fashilah yang mempunyai bunyi akhir yang sama serta pembentukan derivasi atau wazannya, yaitu kata تفخيم danتوهيم . Keduanya memiliki wazan yang sama, yaitu تفعيل Maka keselarasan ini dinamakan saja’ mutawazi.

 

            Bait 12

إيماء أو توجه السامع له      #        أو فقد علم سامع غير الصله

1.      Lafadz Saja’: له dan صله

2.      Jenis Saja’: Mutharaf

3.      Alasan: Terdapat keselarasan bunyi antara akhir fashȋlah pertama dan fashȋlah kedua, yang berbeda dalam wazannya tetapi seseuai dalam huruf akhirnya.

Pada syair tersebut, ada dua kata akhir pada setiap syathar/fashilah yang mempunyai bunyi akhir yang sama akan tetapi berbeda dalam pembentukan derivasi atau wazannya, yaitu kata له dan صله. Maka keselarasan ini dinamakan saja’ mutharaf.

 

            Bait 13

وبإشارة لكشف الحال       #        من قرب أو بعد أو استجهال

1.      Lafadz Saja’: الحال dan إستجهال

2.      Jenis Saja’: Mutharaf

3.      Alasan: Terdapat keselarasan bunyi antara akhir fashȋlah pertama dan fashȋlah kedua, yang berbeda dalam wazannya tetapi seseuai dalam huruf akhirnya.

Pada syair tersebut, ada dua kata akhir pada setiap syathar/fashilah yang mempunyai bunyi akhir yang sama akan tetapi berbeda dalam pembentukan derivasi atau wazannya, yaitu kata الحال dan إستجهال. Maka keselarasan ini dinamakan saja’ mutharaf.

 

            Bait 14

أو غاية التمييز والتعظيم      #        والحظ والتنبيه والتفخيم

1.      Lafadz Saja’: تعظيم  dan تفخييم

2.      Jenis Saja’: Mutawȃzi

3.      Alasan: Terdapat keselarasan bunyi antara akhir fashȋlah pertama dan fashȋlah kedua, serta memiliki kesesuaian dalam wazannya.

Pada syair tersebut, ada dua kata akhir pada setiap syathar/fashilah yang mempunyai bunyi akhir yang sama serta pembentukan derivasi atau wazannya, yaitu kata تعظيم danتفخيم . Keduanya memiliki wazan yang sama, yaitu تفعيل Maka keselarasan ini dinamakan saja’ mutawazi.

 

            Bait 15

وكونه باللام في النحو علم    #        لكن الإستغراق فيه ينقسم

1.      Lafadz Saja’: علم dan ينقسم

2.      Jenis Saja’: Mutharaf

3.      Alasan: Terdapat keselarasan bunyi antara akhir fashȋlah pertama dan fashȋlah kedua, yang berbeda dalam wazannya tetapi seseuai dalam huruf akhirnya.

Pada syair tersebut, ada dua kata akhir pada setiap syathar/fashilah yang mempunyai bunyi akhir yang sama akan tetapi berbeda dalam pembentukan derivasi atau wazannya, yaitu kata علم dan ينقسم. Yang pertama memiliki wazan فعل sedangkan yang kedua berwazan ينفعل. Maka keselarasan ini dinamakan saja’ mutharaf.

           

            Bait 16

الى حقيقي وعرفي وفي      #        فرد من الجمع أعم فاقتفي

1.      Lafadz Saja’: في dan أقتفي

2.      Jenis Saja’: Mutharaf

3.      Alasan: Terdapat keselarasan bunyi antara akhir fashȋlah pertama dan fashȋlah kedua, yang berbeda dalam wazannya tetapi seseuai dalam huruf akhirnya.

Pada syair tersebut, ada dua kata akhir pada setiap syathar/fashilah yang mempunyai bunyi akhir yang sama akan tetapi berbeda dalam pembentukan derivasi atau wazannya, yaitu kata في dan أقتفي. Maka keselarasan ini dinamakan saja’ mutharaf.

 

            Bait 17

وبإضافة لحصر واحتصار    #        تشريف أول وثان واحتقار

1.      Lafadz Saja’: إحتصار dan إحتقار

2.      Jenis Saja’: Mutawȃzi

3.      Alasan: Terdapat keselarasan bunyi antara akhir fashȋlah pertama dan fashȋlah kedua, serta memiliki kesesuaian dalam wazannya.

Pada syair tersebut, ada dua kata akhir pada setiap syathar/fashilah yang mempunyai bunyi akhir yang sama serta pembentukan derivasi atau wazannya, yaitu kata إحتصار danإحتقار. Keduanya memiliki wazan yang sama, yaitu إفتعال Maka keselarasan ini dinamakan saja’ mutawazi.

 

            Bait 18

تكافؤ سآمة إخفاء           #        وحث أو مجاز استهزاء

1.      Lafadz Saja’: إخفاء dan إستهزاء

2.      Jenis Saja’: Mutharaf

3.      Alasan: Terdapat keselarasan bunyi antara akhir fashȋlah pertama dan fashȋlah kedua, yang berbeda dalam wazannya tetapi seseuai dalam huruf akhirnya.

Pada syair tersebut, ada dua kata akhir pada setiap syathar/fashilah yang mempunyai bunyi akhir yang sama akan tetapi berbeda dalam pembentukan derivasi atau wazannya, yaitu kata إخفاء dan إستهزاء. Yang pertama memiliki wazan إفعال sedangkan yang kedua berwazan إستفعال. Maka keselarasan ini dinamakan saja’ mutharaf.

 

            Bait 19

ونكروا إفرادا أو تكثيرا      #        تنويعا أوتعظيما أو تحقيرا

1.      Lafadz Saja’: تكثيرا  dan تحقيرا

2.      Jenis Saja’: Mutawȃzi

3.      Alasan: Terdapat keselarasan bunyi antara akhir fashȋlah pertama dan fashȋlah kedua, serta memiliki kesesuaian dalam wazannya.

Pada syair tersebut, ada dua kata akhir pada setiap syathar/fashilah yang mempunyai bunyi akhir yang sama serta pembentukan derivasi atau wazannya, yaitu kata تكثيرا danتحقيرا. Keduanya memiliki wazan yang sama, yaitu تفعيل Maka keselarasan ini dinamakan saja’ mutawazi.

 

            Bait 20

كجهل أو تجاهل تهويل      #        تهوين أو تلبيس أو تقليل

1.      Lafadz Saja’: تهويل  dan تقليل

2.      Jenis Saja’: Mutawȃzi

3.      Alasan: Terdapat keselarasan bunyi antara akhir fashȋlah pertama dan fashȋlah kedua, serta memiliki kesesuaian dalam wazannya.

Pada syair tersebut, ada dua kata akhir pada setiap syathar/fashilah yang mempunyai bunyi akhir yang sama serta pembentukan derivasi atau wazannya, yaitu kata تهويل danتقليل . Keduanya memiliki wazan yang sama, yaitu تفعيل Maka keselarasan ini dinamakan saja’ mutawazi.

 

            Bait 21

ووصفه لكشف أو تخصيص #        ذم ثنا توكيد أو تنصيص

1.      Lafadz Saja’: تخصيص  dan تنصيص

2.      Jenis Saja’: Mutawȃzi

3.      Alasan: Terdapat keselarasan bunyi antara akhir fashȋlah pertama dan fashȋlah kedua, serta memiliki kesesuaian dalam wazannya.

Pada syair tersebut, ada dua kata akhir pada setiap syathar/fashilah yang mempunyai bunyi akhir yang selaras serta pembentukan derivasi atau wazannya, yaitu kata تخصيص danتنصيص. Keduanya memiliki wazan yang sama, yaitu تفعيل Maka keselarasan ini dinamakan saja’ mutawazi.

 

            Bait 22

وأكدوا تقريرا أو قصد الخلوص         من ظن سهو أو مجاز أو خصوص

1.      Lafadz Saja’: خلوص  dan خصوص

2.      Jenis Saja’: Mutawȃzi

3.      Alasan: Terdapat keselarasan bunyi antara akhir fashȋlah pertama dan fashȋlah kedua, serta memiliki kesesuaian dalam wazannya.

Pada syair tersebut, ada dua kata akhir pada setiap syathar/fashilah yang mempunyai bunyi akhir yang selaras serta pembentukan derivasi atau wazannya, yaitu kata خلوص danخصوص. Keduanya memiliki wazan yang sama, yaitu فعول Maka keselarasan ini dinamakan saja’ mutawazi.

 

            Bait 23

وعطفوا عليه با لبيان        #        باسم به يختص للبيان

1.      Lafadz Saja’: البيان  dan البيان

2.      Jenis Saja’: Mutawȃzi

3.      Alasan: Terdapat keselarasan bunyi antara akhir fashȋlah pertama dan fashȋlah kedua, serta memiliki kesesuaian dalam wazannya.

Pada syair tersebut, ada dua kata akhir pada setiap syathar/fashilah yang mempunyai bunyi akhir yang selaras serta pembentukan derivasi atau wazannya, yaitu kata البيان danالبيان. Keduanya memiliki wazan yang sama, yaitu فعال Maka keselarasan ini dinamakan saja’ mutawazi.

 

            Bait 24

وأبدلوا تقريرا أو تحصيلا     #        وعطفوا بنسق تفصيلا

1.      Lafadz Saja’: تحصيلا  dan تفصيلا

2.      Jenis Saja’: Mutawȃzi

3.      Alasan: Terdapat keselarasan bunyi antara akhir fashȋlah pertama dan fashȋlah kedua, serta memiliki kesesuaian dalam wazannya.

Pada syair tersebut, ada dua kata akhir pada setiap syathar/fashilah yang mempunyai bunyi akhir yang selaras serta pembentukan derivasi atau wazannya, yaitu kata تحصيلا danتفصيلا. Keduanya memiliki wazan yang sama, yaitu تفعيل Maka keselarasan ini dinamakan saja’ mutawazi.

 

            Bait 25

لأحد الجزأين أو رد إلى      #        حق وصر الحكم للذي تلا

1.      Lafadz Saja’: الى dan تلا

2.      Jenis Saja’: Mutharaf

3.      Alasan: Terdapat keselarasan bunyi antara akhir fashȋlah pertama dan fashȋlah kedua, yang berbeda dalam wazannya tetapi seseuai dalam huruf akhirnya.

Pada syair tersebut, ada dua kata akhir pada setiap syathar/fashilah yang mempunyai bunyi akhir yang sama akan tetapi berbeda dalam pembentukan derivasi atau wazannya, yaitu kata الى dan تلا. Maka keselarasan ini dinamakan saja’ mutharaf.

 

            Bait 26

والشك والتشكيك والإبهام  #        وغير ذلك من الأحكام

1.      Lafadz Saja’: الإيهام dan الأحكام

2.      Jenis Saja’: Mutharaf

3.      Alasan: Terdapat keselarasan bunyi antara akhir fashȋlah pertama dan fashȋlah kedua, yang berbeda dalam wazannya tetapi seseuai dalam huruf akhirnya.

Pada syair tersebut, ada dua kata akhir pada setiap syathar/fashilah yang mempunyai bunyi akhir yang sama akan tetapi berbeda dalam pembentukan derivasi atau wazannya, yaitu kata الإيهام dan الأحكام. Maka keselarasan ini dinamakan saja’ mutharaf.

 

            Bait 27

وفصله يفيد قصر المسند    #        عليه كالصوفي هو المهتدي

1.      Lafadz Saja’: المسند  dan المهتد

2.      Jenis Saja’: Mutawȃzi

3.      Alasan: Terdapat keselarasan bunyi antara akhir fashȋlah pertama dan fashȋlah kedua, serta memiliki kesesuaian dalam wazannya.

Pada syair tersebut, ada dua kata akhir pada setiap syathar/fashilah yang mempunyai bunyi akhir yang selaras serta pembentukan derivasi atau wazannya, yaitu kata المسند danالمهتدي. Keduanya memiliki wazan yang sama, yaitu مفعل Maka keselarasan ini dinamakan saja’ mutawazi.

 

            Bait 28

وقدموا للأصل أو تشويف  #        لخبر تلذذ تشريف

1.      Lafadz Saja’: تشويف  dan تشريف

2.      Jenis Saja’: Mutawȃzi

3.      Alasan: Terdapat keselarasan bunyi antara akhir fashȋlah pertama dan fashȋlah kedua, serta memiliki kesesuaian dalam wazannya.

Pada syair tersebut, ada dua kata akhir pada setiap syathar/fashilah yang mempunyai bunyi akhir yang selaras serta pembentukan derivasi atau wazannya, yaitu kata تشويف dan تشريف. Keduanya memiliki wazan yang sama, yaitu تفعيل Maka keselarasan ini dinamakan saja’ mutawazi.

 

            Bait 29

وحط اهتمام أو تنظيم        #        تفاؤل تخصيص أو تعميم

1.      Lafadz Saja’: تنظيم  dan تعميم

2.      Jenis Saja’: Mutawȃzi

3.      Alasan: Terdapat keselarasan bunyi antara akhir fashȋlah pertama dan fashȋlah kedua, serta memiliki kesesuaian dalam wazannya.

Pada syair tersebut, ada dua kata akhir pada setiap syathar/fashilah yang mempunyai bunyi akhir yang selaras serta pembentukan derivasi atau wazannya, yaitu kata تنظيم dan تعميم. Keduanya memiliki wazan yang sama, yaitu تفعيل Maka keselarasan ini dinamakan saja’ mutawazi.

 

            Bait 30

إن صاحب المسند حرف السلب     إذ ذاك يقتضي عموم السلب

1.      Lafadz Saja’: السلبdan السلب

2.      Jenis Saja’: Mutawȃzi

3.      Alasan: Terdapat keselarasan bunyi antara akhir fashȋlah pertama dan fashȋlah kedua, serta memiliki kesesuaian dalam wazannya.

Pada syair tersebut, ada dua kata akhir pada setiap syathar/fashilah yang mempunyai bunyi akhir yang selaras serta pembentukan derivasi atau wazannya, yaitu kata السلب dan السلب. Keduanya memiliki wazan yang sama, yaitu فغل Maka keselarasan ini dinamakan saja’ mutawazi.

Pada bab ini, hanya ada dua jenis saja’ yang digunakan oleh al-Akhdhari, yaitu Mutharaf dan mutawazi. Setelah melakukan analisis, penulis hanya menemukan 4 bait saja dalam kitab Jauhar al-Maknun yang menggunakan saja’ murasha’, yaitu sebagai berikut.

ثم أبي عمر إمام العابدين     #        وسطوة الله إمام ازاهدين

1.      Lafadz Saja’: إمام العابدين  dan إمام الزاهدين

2.      Jenis Saja’: Murasha’

3.      Alasan: Terdapat keselarasan bunyi dan wazan pada keseluruhan atau sebagian besar di antara dua syathar/fashilah.

Pada syair tersebut, sebagian besar kata dalam dua syathar syair tersebut memiliki keselarasan baik dari segi maupun wazan. Maka keselarasan ini dinamakan saja’ murasha’

كالتائبون العابدون الحامدون #        كالتائبون العابدون الحامدون

1.      Lafadz Saja’: Semua kata dalam syair tersebut

2.      Jenis Saja’: Murasha’

3.      Alasan: Terdapat keselarasan bunyi dan wazan pada keseluruhan atau sebagian besar di antara dua syathar/fashilah.

Pada syair tersebut, semua kata dalam dua syathar syair tersebut memiliki keselarasan baik dari segi maupun wazan. Maka keselarasan ini dinamakan saja’ murasha’

إحالة تلويح أو تخييل         #        وفرصة تسميط أو تعليل

1.      Lafadz Saja’: تلويح أو تخييل dan تسميط أو تعليل

2.      Jenis Saja’: Murasha’

3.      Alasan: Terdapat keselarasan bunyi dan wazan pada keseluruhan atau sebagian besar di antara dua syathar/fashilah.

Pada syair tersebut, sebagian besar kata dalam dua syathar syair tersebut memiliki keselarasan baik dari segi maupun wazan. Maka keselarasan ini dinamakan saja’ murasha’

 

تعريض أو إلغاز ارتقاء       #        تنزيل او تأنيس او إيماء

1.      Lafadz Saja’: تعريض أو إلغاز  dan تأنيس أو إيماء

2.      Jenis Saja’: Murasha’

3.      Alasan: Terdapat keselarasan bunyi dan wazan pada keseluruhan atau sebagian besar di antara dua syathar/fashilah.

Pada syair tersebut, sebagian besar kata dalam dua syathar syair tersebut memiliki keselarasan baik dari segi maupun wazan. Maka keselarasan ini dinamakan saja’ murasha’

 

3. Tingkatan Saja’ dalam Kitab Jauhar al Maknun

            Berdasarkan Analisa yang telah dilakukan mengenai pengelompokan jenis-jenis saja’ di dalam kitab Jauhar al Maknun, ternyata semua katergori saja’ itu ada, baik mutharaf, mutawazi’ maupun murasha’. Adapun dari ketiga jenis saja’ tersebut, yang paling banyak dijumpai ialah saja’ mutharaf, yaitu saja’ yang mempunyai kesamaan di antara dua fasilah pada huruf akhirnya tetapi berbeda dalam wazannya. Kemudian disusul oleh saja’ mutawazi, atau saja yang mempunyai kesamaan wazan antara fasilah kesatu dan kedua. Sedangkan saja’ mursha’ jarang sekali ditemukan pada bait-bait kitab ini.

            Hasil analisa saja’ yang pada kitab Jauhar al Maknun yang diambil pada bab terpanjang, yaitu Musnad Ilaih menunjukkan bahwa saja’ mutharaf ditemukan sebanyak 16 bait, saja’ mutawazzi’ ditemukan 14 bait, dan saja’ mursha’ ditemukan 4 bait. Dengan begitu, pengarang kitab ini lebih memfokuskan pada kesamaan huruf akhirnya meskipun berbeda wazan, karena memang saja’ ini lah yang paling mudah untuk dibuat. Penulis tidak terlalu bingung untuk mencari diksi-diksi yang mengikuti saja’ ini. berbeda halnya dengan mutawazi, atau bahkan murasha’. Kedua saja’ ini membuthkan pemikiran dan pemilihan diksi yang ketat agar bisa mencantumkan kedua jenis saja’ ini dalam sebuah syair tanpa melepaskan urgensi isi syair tersebut.

            Dari segi tingkatan atau kedudukan saja’nya, bait-bait dalam kitab Jauhar al Maknun ini tergolong kepada tingkatan saja’ yang teratas atau yang paling baik, karena dalam setiap faqrahnya berjumlah sama dantidak ada yang lebih banyak atau lebih sedikit. Maka dari semua bait isinya, tergolong kategori tingkatan saja’ yang paling baik.

 


 

DAFTAR PUSTAKA



[1] Abdul Qahir Al-Jurjani, I’jaz Al-Qur’an, () Hal. 75

Komentar

Postingan populer dari blog ini

INSYAIYAH THALABI DAN GHAIRU THALABI

INSYAIYAH THALABI DAN GHAIRU THALABI BAB I PENDAHULUAN   A.     Latar Belakang             Dalam keilmuan bahasa Arab, dikenal ada 12 fan keilmuan yang menjadi pusat kajian para linguis Arab. Salah satunya adalah ilmu balaghah. Ilmu balaghah adalah ilmu yang mempelajari tentang retorika baik secara lisan maupun tulisan. Para linguis arab membagi ilmu ini ke dalam tiga cabang, yaitu ma’ani, bayan dan badi’. Setiap cabang dalam ilmu ini mempunyai kajian dan tujuan yang berbeda-beda.             Salah satu cabang yang menarik adalah ilmu ma’ani. Ilmu ma’ani adalah ilmu yang mempelajari tentang kesesuaian antara perkataan atau tulisan yang dilontarkan seseorang agar bisa dipahami secara jelas. Bukan hanya jelas, tetapi untuk mengetahui penekanan dan konteks dibalik suatu ungkapan. Sehingga secara garis besar, para ahli ma’ani membagi-bagi bahasan ilmu...

Biografi Abu Tamam, Sang Penyair Masa Kekhalifahan Abbasiyah

Abu Tamam (788-845 M) adalah seorang penyair Arab terkenal yang hidup pada masa Kekhalifahan Abbasiyah di abad ke-9. Dia dikenal sebagai salah satu penyair terbaik pada masanya, dan karyanya memiliki pengaruh yang kuat dalam sastra Arab. Lahir dengan nama 'Al-Ḥabīb ibn Aws al-Ṭāʾī, Abu Tamam lahir di kota Jirjā, Mesir, dan tumbuh dalam lingkungan sastra yang kaya. Dia menunjukkan bakat puisi sejak usia muda dan terus mengembangkan kemampuannya melalui pembacaan dan studi yang intensif. Abu Tamam dikenal dengan panjang puisinya dan keahliannya dalam menggambarkan alam dan kehidupan manusia dengan kata-kata yang indah dan penuh warna. Karyanya mencakup berbagai tema, termasuk keindahan alam, cinta, kehidupan, dan nilai-nilai moral. Salah satu karya paling terkenal Abu Tamam adalah "Hikayat al-Habsyi" (Cerita Pemuda Habsyi), yang merupakan panegirik panjang yang diabdikan untuk memuji pemuda Habsyi bernama Sa'id bin Malik. Puisi ini memperlihatkan kepiawaian Ab...

KHASH, 'AMM DAN TAKHSISH DALAM USHUL FIQIH

BAB I PENDAHULUAN Salah satu unsur yang paling penting dalam   mengkaji sumber hukum Islam adalah Ushul fiqih. Di dalam Ushul fiqih, banyak sekali pedoman atau kaidah-kaidah yang membantu dalam menetapkan   hukum baik itu dalam Al-Quran atau pun sunnah. Dengan kaidah ini diharapkan untuk dapat mengambil dalil dari sumber hukum islam secara benar, dapat menjelaskan nash syara’ yang masih samar, menyelesaikan kontradiksi antara nash yang masih samar dan juga mentakwilkan nash yang ada bukti takwilnya, juga hal-hal lain yang berhubungan dengan pengambilan hukum dari nashnya. Dan diantara salah satu kaidah yang digunakan dalam istinbath adalah mengenai lafadz khash dan (kafadz khusus) dan lafadz ‘amm (lafadz umum) yang dengan ini kita akan mengetahui apakah nash syara’ tersebut sudah khusus dan sudah tidak perlu adanya pergeseran makna selama tidak ada nash lain yang mengharuskannya dan juga akan mengetahui apakah lafadz ini masih berlaku umum sehingga membutuhkan dali...