Langsung ke konten utama

INSYAIYAH THALABI DAN GHAIRU THALABI

INSYAIYAH THALABI DAN GHAIRU THALABI


Kitab syarah jauhar maknun



BAB I

PENDAHULUAN

 

A.    Latar Belakang

            Dalam keilmuan bahasa Arab, dikenal ada 12 fan keilmuan yang menjadi pusat kajian para linguis Arab. Salah satunya adalah ilmu balaghah. Ilmu balaghah adalah ilmu yang mempelajari tentang retorika baik secara lisan maupun tulisan. Para linguis arab membagi ilmu ini ke dalam tiga cabang, yaitu ma’ani, bayan dan badi’. Setiap cabang dalam ilmu ini mempunyai kajian dan tujuan yang berbeda-beda.

            Salah satu cabang yang menarik adalah ilmu ma’ani. Ilmu ma’ani adalah ilmu yang mempelajari tentang kesesuaian antara perkataan atau tulisan yang dilontarkan seseorang agar bisa dipahami secara jelas. Bukan hanya jelas, tetapi untuk mengetahui penekanan dan konteks dibalik suatu ungkapan. Sehingga secara garis besar, para ahli ma’ani membagi-bagi bahasan ilmu ma’ani ini ke dalam 8 bab besar, yaitu isnad, musnad ilaih, musnad, khuruj ‘an muqtadha dzahir, muta’aliqatul fi’li, insyaiyah, qashar, fashal dan washal, dan ijaz, ithnab dan musawaat.

            Dalam susunan kalimat, ahli ma’ani juga membaginya ke dalam dua bagian yaitu khabariyah dan insyaiyah. Tujuan dari pembagian ini adalah agar mukhatab (yang diajak bicara) bisa memahami serta mengetahui sikap yang harus mereka lakukan saat mendengar kalam khabariyah atau pun kalam insyaiyah. Karena kalam khabariyah merupakan sebuah berita dan memerlukan jawaban benar atau salah, sedangkan insyaiyah merupakan kalimat-kalimat yang tidak memerlukan jawaban atau tanggapan tersebut.

            Hal yang menarik dalam kalam insyaiyah adalah respon seorang mukhatab yang tebagi menjadi dua, yaitu thalabiyah dan ghairu thalabiyah. Jika insyaiyahnya berbentuk thalabi maka mukhatab haruslah mengikuti dan melaksanakan kata-kata yang telah diungkapkan oleh mutakallim (pembicara). Sedangkan jika mutakallim mengungkapkan kalam insyaiyah ghairu thalabi, maka mukhatab tidak perlu merespon apa-apa dan tidak juga melaksanakan apa-apa. Cukup dengan mengikuti suasana yang dibawa oleh mutakallim.

            Atas dasar itulah penulis tertarik untuk menjelaskan secara rinci tentang insyaiyah thalabi dan ghairu thalabi baik dari aspek kedudukan maupun tujuan.

B.     Rumusan Masalah

1.      Apa yang dimaksud dengan insyaiyah thalabi dan ghairu thalabi?

2.      Bagaimana kedudukan materi tersebut dalam khazanah keilmuan balaghah?

3.      Apa sajakah bagian dari insyaiyah thalabi dan ghairu thalabi?

 

C.     Tujuan

            Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah ilmu balaghah dan untuk menjadi bahan pembelajaran khususnya bagi mahasiswa bahasa dan sastra arab dan umumnya untuk semua kalangan yang ingin mempelajari ilmu balaghah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB I

PEMBAHASAN

 

A.    Insyaiyah Thalabi

1.      Amr

Secara leksikal amr bermakna perintah. Sedangkan dalam terminologi ilmu balâghah amr adalah,

ﻃﻠﺐ اﻟﻔﻌﻞ ﻋﻠﻰ وﺟﻪ لإﺳﺘﻌلاء

Tuntutan mengerjakan sesuatu kepada yang lebih rendah.

Al-Hâsyimi (1960) mendefinisikan jumlah al-amr (kalimat perintah) sebagai tuturan yang disampaikan oleh pihak yang lebih tinggi kedudukannya kepada pihak yang lebih rendah agar melaksanakan suatu perbuatan, seperti

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Alquran kepadamu (hai Muhammad) dengan berangsur-angsur. Maka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Tuhanmu”.

Untuk menyusun suatu kalâm amr ada empat shîgah yang biasa digunakan:

a.       Fi’l al-amr

Semua kata kerja yang ber -shîgah fi’l amr termasuk kategori thalabi .

Contoh,

ﺧﺬ الكتاب بقوة

Ambillah kitab itu dengan kuat!

b.      Fi’l mudhâri’ yang disertai lâm alamr

Fi’il mudhâri’ yang disertai dengan lâm al-amr maknanya sama dengan amr yaitu perintah. Contoh,

ﻟﻴﻨﻔﻖ ذو ﺳﻌﺔ ﻣﻦ ﺳﻌﺘﻪ

Hendaklah berinfak ketika dalam keleluasaan

c.       Isim fi’il amr

Kata isim yang bermakna fi’il (kata kerja) termasuk shigat yang membentuk kalâm insyâi thalabi

Contoh,

ﺣﻲ ﻋﻠﻰ الصلاة حي على الفلاح

Mari melaksanakan shalat! Mari menuju kebahagiaan!

d.      Mashdar pengganti fi’il

Mashdar yang posisinya berfungsi sebagai pengganti fi’il yang dibuang bisa juga bermakna amr. Contoh,

ﺳﻌﻴﺎ في اﻟﺨﻴﺮ

Berusahalah pada hal-hal yang baik

Dari keempat shîgah tersebut makna amr pada dasarnya adalah perintah dari yang lebih atas kepada yang lebih rendah. Namun demikian ada beberapa makna Amr selain dari makna perintah. Makna-makna tersebut adalah do’a, iltimâs (menyuruh yang sebaya), tamannî (berangan-angan), tahdîd (ancaman), ta’jiz (melemahkan), taswiyah (menyamakan), takhyîr (memilih), dan ibâhah (membolehkan).

Amar yang keluar dari arti aslinya

Sighot Amar terkadang keluar dari arti aslinya menjadi arti yang lain yang bisa dipahami dengan alur pembicaraan (Siyaqul kalam) dan Indikasi keadaan. seperti:

a.       Do’a, yaitu menuntut suatu pekerjaan dengan cara merendah atau sopan, baik orang yang menuntut itu rendah atau tinggi ataupun sama derajatnya. Contoh:  ﺃَﻭْﺯِﻋْﻨِﻲْ ﺃَﻥْ ﺃَﺷْﻜُﺮَ ﻧِﻌْﻤَﺘَﻚَ = Mohon Berikan Ilham padaku untuk mensyukuri nikmat-Mu (Surat An-Naml: 19).

b.      Iltimas yaitu: menuntut suatu pekerjaan secara halus tanpa adanya Isti’la’ atau merendahkan diri baik orang yang memerintah itu lebih tinggi derajatnya, atau lebih rendah atau sama). seperti ucapanmu terdapap teman sebayamu :  ﺃَﻋْﻄِﻨِﻲْ ﺍﻟﻜِﺘَﺎﺏَ = berikan padaku kitab itu .

c.       Tamanni yaitu: Perintah suatu perkara yang disenangi tanpa adanya sifat toma’), contoh:

اَلَا أَيُّهَا الَّيْلُ الطَّوِيْلُ أَلَا أَنْجَلِي بِصُبْحٍ وَمَا الْإِصْبَاحُ مِنْكَ بِأَمْثَالٍ

Ingatlah, wahai Sang malam yang panjang!, tampakkanlah dengan waktu shubuh, dan tiadalah kenampakan waktu shubuh darimu itu lebih utama (disisiku).

d.      Tahdid (Mengancam), contoh:  ﺇِﻋْﻤَﻠُﻮْﺍ ﻣَﺎ ﺷِﺌﺘﻢْ = Kerjakanlah sesuka hati kalian! (Maka kalian akan melihat balasannya dihadapan kalian) (Surat Fushilat: 40)

e.       Ta’jiz (melemahkan) ,

Contoh:

 ﻳَﺎ ﻟَﺒَﻜْﺮٍانﺸِﺮُوا ﻟِﻲْ ﻛُﻠَﻴْﺒَﺎ ﻳَﺎﻟَﺒَﻜْﺮٍ أﻳْﻦَ أﻳْﻦَ اﻟﻔِﺮار

Wahai Bakar, hidupkanlah kembali Kulaib, Hai Bakar dimana? dimana engkau akan lari?

f.       Taswiyyah (menyamakan), Seperti Firman Allah:

إﺻْﻠَﻮْﻫَﺎ إﺻْﺒِﺮوا أوﻻَ ﺗَﺼْﺒِﺮوا ﺳَﻮاء ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ

Masuklah kalian ke dalamnya (rasakanlah panas apinya), Bersabarlah kalian ataukah janganlah sabar kalian, sama saja bagi kalian.

Karena terkadang disalah persepsikan bahwa sabar itu bermanfaat, maka hal itu mendorong untuk menyamakan bagi mereka antara sabar dan tidak dalam hal sama- sama tiada bermanfaat.

2.      Nahyu

Makna nahyu secara leksikal adalah melarang, menahan, dan menentang. Sedangkan dalam terminologi ilmu balâghah nahyu adalah,

ﻃَﻠَﺐُ اﻟْﻜَﻒِّ ﻋَﻦِ اﻟْﻔِﻌْﻞِ ﻋَﻠَﻰ وَﺟْﻪِ لِلْإِﺳْﺘِﻌْلَاءِ

Tuntutan meninggalkan suatu perbuatan dari pihak yang lebih tinggi.

Contoh: “Janganlah kamu sekalian mendekati zina! Sesungguhnya zina itu perbuatan keji dan jalan yang sejelek-jeleknya. (al-Isra: 32)

Pada ayat di atas Allah swt melarang orang-orang beriman berbuat zina. Al-Hasyimi mendefinisikan jumlah alnahy (kalimat melarang) sebagai tuturan yang disampaikan oleh pihak yang lebih tinggi kedudukannya kepada pihak yang lebih rendah agar meninggalkan sesuatu perbuatan.

Nahyi yang keluar dari arti aslinya

Terkadang Sighot Nahi itu keluar dari arti aslinya menjadi arti yang lain yang bisa dipahami dari maqom/Keadaan dan alur pembicaraan (Siyaqul kalam). seperti :

a.       Do’a , (yaitu : tuntutan untuk meninggalkan suatu pekerjaan dengan cara merendah atau sopan) contoh pada Firman Allah :  ﻓَﻼَ ﺗُﺸْﻤِﺖْ ﺑِﻲَ ﺍﻷَﻋْﺪَﺍﺀَ = Mohon Janganlah kau membuat gembira para musuh dengan melihatku (Surat Al-A’rof : 150) .

b.      Iltimas (yaitu : Tuntutan meninggalkan suatu pekerjaan tanpa adanya Isti’la’ atau merendahkan diri). seperti ucapanmu terdapap teman sebayamu :

ﻻَﺗَﺒْﺮَح ﻣِﻦْ ﻣَﻜَﺎﻧِﻚَ ﺣَﺘﻰ أرﺟِﻊَ اليك

Janganlah kau pindah dari tempatmu, sampai aku kembali padamu

c.       Tamanni, contoh:

ﻳَﺎ ﻟَﻴْﻞُ ﻃُﻞْ ﻳَﺎ نَوْمُ زُلْ ﻳَﺎ ﺻُﺒْﺢُ ﻗِﻒْ ﻻَ ﺗَﻄْﻠُﻊْ

Wahai Malam, panjangkan waktumu, wahai tidur hilanglah, wahai Waktu subuh berhentilah, janganlah kau nampak.

d.      Tahdid (Mengancam), Seperti ucapanmu kepada pelayanmu:   ﻻَ ﺗُﻄِﻊْ ﺃَﻣْﺮِﻱْ = Jangan kau patuhi perintahku! (Maka akan kau rasakan akibatnya).

Dalam konteks tertentu, kalimat perintah ini terkadang menyimpang dari makna aslinya dan menunjukkan makna-makna lain, di antaranya adalah Do’a. Doa merupakan ungkapan amr yang dapat menunjukkan makna do’a apabila suatu perintah tersebut berupa permohonan yang datang dari bawah kepada yang diatas. Seperti contohnya dalam QS. Ali imron: 193 tentang permohonan kita kepada Allah agar Allah mengampuni segala dosa dan kesalahan kita:

رَبَّنَا فَاغْفِرْلَنَا ذُنُوْبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا

“Ya Tuhan kami,ampunilah dosa-dosa kami dan hapuskanlah kesalahan-kesalahan kami”

Kata “اغفر” dan kata “كفر” dalam ayat diatas, meskipun berbentuk fi’il amr, keduanya tidak menunjukkan makna amr yang haqiqi tetapi menunjukkan makna do’a. Sebab kedua kata trsebut digunakan dalam konteks permohonan seorang hamba kepada tuhannya.

3.      Tamanni

Kalimat tamanni (berangan-angan) adalah kalimat yang berfungsi untuk menyatakan keinginan terhadap sesuatu yang disukai, tetapi tidak mungkin untuk meraihnya, seperti:

فَخَرَجَ عَلَىٰ قَوۡمِهِۦ فِي زِينَتِهِۦۖ قَالَ ٱلَّذِينَ يُرِيدُونَ ٱلۡحَيَوٰةَ ٱلدُّنۡيَا يَٰلَيۡتَ لَنَا مِثۡلَ مَآ أُوتِيَ قَٰرُونُ إِنَّهُۥ لَذُو حَظٍّ عَظِيم

Artinya:

“Ingin rasanya kami memiliki apa yang diberikan kepada Qarun. Sesungguhnya dia benar - benar memperoleh keberuntungan yang besar .” (QS. al-Qashash: 79)

Dalam terminology ilmu balaghah, tamanni adalah  

طلب الشئ المحبوب الذى لا يرجى ولا يتوقع حصوله

“Menuntut sesuatu yang diinginkan, akan tetapi tidak mungkin terwujud. Ketidakmungkinan terwujudnya sesuatu itu bisa terjadi karena mustahil terjadi atau juga sesuatu yang mungkin akan tetapi tidak maksimal dalam mencapaianya .”

Sya`ir dibawah ini merupakan contoh tamanni yang mengharapkan sesuatu yang mustahil terjadi :

ألا ليت الشباب يعود يوما فأخبركم بما فعل المشيب

“ Aduh, seandainya masa muda itu kembali sehari saja,  aku akan mengabari kalian bagaimana yang terjadi ketika sudah tua.”

Pada sya`ir diatas penyair mengharapkan kembalinya masa muda walauoun hanya sehari. Hal ini tidak mungkin, sehingga dinamakan tamanni.

 

4.      Istifham

Kata  "استفهام" merupakan bentuk mashdar dari kata  "استفهم" Secara leksikal kata tersebut bermakna meminta pemahaman/meminta pengertian. Secara istilah istifham bermakna: طلة العلن تالشيئ Artinya: Menuntut pengetahuan tentang sesuatu. Menuntut pengetahuan akan sesuatu yang sebelumnya belum diketahui yaitu dengan perantaraan salah satu alat/perabot dari beberapa alatnya. Katakata yang digunakan untuk istifham ini ialah: ا - هل – ما - من – ايان – كيف - اين - انى – كم – اي Suatu kalimat yang menggunakan kata tanya dinamakan jumlah istifhamiyyah , yaitu kalimat yang berfungsi untuk meminta informasi tentang sesuatu yang belum diketahui sebelumnya dengan menggunakan salah satu huruf istifham.

a.       Hamzah

Hamzah digunakan untuk mencari pengetahuan tentang dua hal:

1)        Tashawwur, yaitu gambaran tentang mufrad. Dalam hal ini hamzah langsung diiringi dengan hal yang ditanyakan dan umumnya hal yang ditanyakan ini mempunyai bandingan yang disebutkan setelah lafadz am. Contoh:

اراكبا جئت ام ماشيا؟

“Apakah kamu datang dengan kendaraan, ataukah berjalan kaki?”

2)       Tashdiq, yaitu gambaran tentang nisbah. Dalam hal ini bandingan tidak dapat disebutkan. Contoh:

اتتحرك الأرض؟

“Apakah bumi itu bergerak?.”

 

b.      Hal (هل)

Hal هل, yaitu adat istifham yang digunakan untuk menanyakan penisbatan sesuatu padaa yang lain atau kebalikannya,. Adat istifham hal digunakan apabila penanya tidak mengetahui nisbah antar musnad ilaih dan tidak bisa masuk ke dalam nafyu, mudhari’ untuk makna sekarang, syarah dan tidak bisa pula pada huruf athaf.

Contoh:

هل انتم مسلمون؟

“apakah kamu seorang muslim?”

c.       Man ( من )

Kata من termasuk kedalam adawatul istifham yaitu untuk menanyakan tentang orang. Contohnya :

من بنى هذا المسجد ؟ أحمد بنى هذا المسجد؟

Adawatul istifham yang terdapat pada istifhamiyah diatass yaitu من yang bertujuan untuk menanyakan siapa yang membangun masjid ini.

d.      Ma ( ( ما

Kata ما digunakan untuk menyakan sesuatu yang tidak berakal. Kata ini juga digunakan untuk meminta penjelasan tentang sesuatu atau hakikat sesuatu. Contohnya :

ما هو الإيمان

e.       Mataa ( متى )

Kata متى digunakan untuk meminta penjelasan tentang waktu, baik waktu lampau atau waktu sekarang. Contohnya :

متى نصر الله ؟

f.       Ayyaana ( أيان )

Digunakan untuk meminta penjelasan mengenai waktu yang akan datang. Kata ini biasanya digunakan untuk menantang. Contohnya:

 يسئلونك عن الساعة. أيان مرساها ؟

 

g.       Kaifa ( كيف )

Digunakan untuk menanyakan keadaan sesuatu. Contohnya :

كيف حالك ؟

h.      Aina ( أين )

Digunakan untuk menanyakan tempat. Contohnya :

أين كتابك ؟

 

i.        Anna ( أنى )

Merupakan adat istifham yang memiliki tiga makna yaitu :

1)       Maknanya sama dengan كيف contohnya :

أنى يحيى هذه الله بعد موتها

2)       Bermakna أين contohnya :

يا مريم أنى لك هذا

3)       Bermakna متى contohnya :

زرنى أنى شئت

j.        Kam (  كم)

Merupakan adat istifham yang maknanya menanyakan jumlah yang masih samar. Contohnya :

كم لبثتم

Juga untuk menanyakan dengan mengkhususkan salah satu dari dua hal yang berserikat. Contohnya :

أى الفريقين خيرا مقاما

Kata ini digunakan untuk menanyakan hal yang berkaitan dengan waktu, tempat, keadaan, jumlah baik yang berakala maupun yang tidak berakal.

 

k.      Ayyu ( أي )

Kata ini berfungsi untuk menanyakan dan menghendaki perbedaan antara dua hal yang terlepas setelah kata benda yang menempati berbagi posisi, mubtada`, khabar, maf`ul bih. Contohnya:

أي الأستاذ في القاعة ؟

 

5.      Nida

Secara leksikal nida artinya panggilan. Sedangkan terminologi ilmu balaghah nida adalah :

طلب الإقبال بحرف نائب مناب "أناد" أدعو" المنقول من الخبر الى الإنشاء

Nida adalah tuntutan mutakallim yang menghendaki seseorang agar menghadapnya. nida menggunakan huruf yang menggantikan lafadz “unadi” atau “ad`u” yang susunannya dipindah dari kalam khabri menjadi kalam insya`i.

Huruf-huruf nida’ itu ada delapan: hamzah, ay, yaa, aa, aay, ayaa, hayaa, dan waa. Hamzah dan ay untuk memanggil munada yang dekat, sedangkan huruf nida’ yang lain untuk memanggil munada yang jauh.

Kadang-kadang munada yang jauh dianggap sebagai munada dekat, lalu dipanggil dengan huruf nida’ hamzah dan ay. Hal ini merupakan isyarat atas dekatnya munada dalam hati orang yang memanggilnya. Dan kadang-kadang munada yang dekat dianggap sebagai munada yang jauh, lalu dipanggil dengan huruf nida’ selain hamzah dan ay. Hal ini sebagai isyarat atas ketinggian derajat munada, atau kerendahan martabatnya, atau kelalaian dan kebekuatan hatinya.

Kadang-kadang nida’ dapat menyimpang dari maknanya yang asli kepada makna yang lain, dan hal ini dapat diketahui melalui beberapa karinah, seperti sebagai teguran, untuk menyatakan kesusahan dan untuk menghasut.  

Contoh:

يا رب إن عظمت ذنوبي كثرة فلقد علمت بأن عفوك أعظم

“ Wahai Tuhanku, seandainya dosa-dosaku lebih besar maka sesungguhnya aku tahu bahwa pengampunanmu itu lebih besar.”

Pada sya`ir di atas munada ditempatkan sebagai dzat paling mulia dan segani. Seakan-akan jauhnya derajat keagungan itu sama dengan jauhnya perjalan. Maka sipembicara memilih huruf yang disediakan untuk memanggil munada yang jauh untuk menunjukkan ketinggian atau keagungannya.

أحسين إني واعظ وهؤدب فافلهم فإن العاقل المتأدب

“ Wahai Husain, sesungguhnya aku memberi nasihat dan mendidikmu, maka pahamilah karena sesungguhnya orang yang berakal itu orang yang mau dididik.”

Pada sya`ir di atas tampak huruf nidanya adalah hamzah untuk memanggil munada yang jauh, menyalahi fungsi semula sebagai isyarah bahwa munada senantiasa hadir dalam hati seakan-akan ia hadir secara fisik.

B.     Insya Ghair Thalabi

Definisi insya ghairu thalabi adalah:

فالإنشاء غير طلبى: ما لا يستدعى مطلوبا غير حاصل وقت الطلب كصيغ المدح والذم، والعقود، والقسم، و التعجب، والرجاء.

Adapun insya ghair thalabi adalah kalimat yang didalamnya tidak menghendaki suatu permintaan. Insya’ ghairu thalaby bisa berbentuk, al-Madh wa al-Dzam,Shiyâgh al-’Uqûd, al-Qasam dan al-Ta’ajjub wa al-Raja’.[1]

Bentuk-bentuk Insya’ Ghairu Thalabi adalah sebagai berikut

1.      Al-Ta’ajjub

Contoh:

ماأكثر الناس إلا بل ماأقلهم           #        الله يعلم أنى لم أقل فندا

اني لأفتح عيني حين افتحها           #        على كثير ولكن لاارى احدا

“Alangkah banyaknya manusia! Tidak, bahkan alangkah sedikitnya mereka! Allah maha tahu bahwa saya tidak berkata dusta.

Sesungguhnya saya benar-benar membuka mata kepada orang banyak, tetapi saya tidak melihat seorang pun.

2.      Al-Madh WA ad-Dzamm

Contoh:

بئس الليالي سهد ت من طرب       #       شوقا الى من يبيت يرقدها

نعم الكريم حائم

“ Sejelek-jeleknya malam (adalah malam) yang pada malam itu aku tidak dapat tidur karena merindukan dan mengkhawatirkan seseorang yang tidur pulas.”

3.      Shiyaghu al-’Uqûd

kebanyakan menggunakan shîghah fi’il madhi, contoh:

بعتك هذا ووهبتك ذاك

4.      al-Qasam

al-Qasam ini Menggunakan wawu, ba’, ta’ dan lain sebagainya, contoh:

لعمرك ما فعلت كذا

5.      Raja’

Biasanya menggunakan, ‘asâ, hariyyu (la’alla) dan ikhlaulaqa, contoh:

عسى الله أن يأتي بالفتح

Insya’ Ghairu thalabi biasanya tidak dibahas Ulama Balâghah karena kebanyakan bentuknya pada dasarnya merupakan kalâm khabar yang berlawanan dengan kalâm insya’. 


 

BAB III

PENUTUP

 

Inysaiyah adalah kalimat yang tidak memerlukan tanggapnan benar atau salah terhadap kalimat tersebut. Insyaiyah terbagi menjadi dua, yaitu insyaiyah thalabi dan insyaiyah ghairu thalabi. Insyaiyah thalabi adalah insyaiyah yang menuntut adanya tanggapan dari mukhatab, sedangkan insyaiyah ghairu thalabi adalah insyaiyah yang tidak menuntut adanya tanggapan dari mukhatab.

Insyaiyah thalabi terbagi menjadi beberapa macam, yaitu shigot amr, nahyi, nida, istifham, dan tamanni. Sedangkan insyaiyah ghairu thalabi terdiri dari ta’ajub, af’alul madhi wa dzammi, qosam, shigot ‘uqud, dan raja’

Tujuan dari memahami insyaiyah thalabiyah dan insyaiyah ghairu thalabiyah ini adalah agar seorang mukhatab dapat merespon perkataan mutakallim dengan baik. Selain itu juga, terkadang shigot insyaiyah dijadikan sebagai shigot khobariyah dan  begitu pula sebaliknya.

Posisi insyaiyah dalam ilmu ma’ani dan dalam memahami al-Qur’an sama dengan kalam khabariyah. Keduanya berfungsi sebagai alat untuk memahami hukum-hukum dalam al-Quran, terutama hubungannya dengan amr atau nahyi. Karena tidak tentu amr itu menunjukkan wajib dan juga tidak selamanya nahyu itu menunjukkan kepada haram.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

al-Hasyimi,Ahmad. 1971. Jawahir al-,Balaghah. Bairut Lebanon: DKI

Wahid Yusuf. Balaghah Ilmu Ma’ani Bab 1 Kalam Khabar Dan Insya. Di akses pada https://wakidyusuf.wordpress.com/2016/04/26/balaghah-ilmu-maani-bab-1-kalam-khabar-dan-insya/ 14 Juni 2020 pukul 00:50.

TariMaedi.2016.Ilmu Balaghah Ma'ani Al Amr (kata perintah). Makalah

https://sabburatunweb.blogspot.com/2019/10/pengertian-kalam-insya-balaghah-serta.html

http://almukarramah36.blogspot.com/2016/01/kalam-insya.html

 

 

 



[1] Ahmad al-Hasyimi, Jawahir al-,Balaghah (Bairut Lebanon: DKI, 1971), hal. 47

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Biografi Abu Tamam, Sang Penyair Masa Kekhalifahan Abbasiyah

Abu Tamam (788-845 M) adalah seorang penyair Arab terkenal yang hidup pada masa Kekhalifahan Abbasiyah di abad ke-9. Dia dikenal sebagai salah satu penyair terbaik pada masanya, dan karyanya memiliki pengaruh yang kuat dalam sastra Arab. Lahir dengan nama 'Al-Ḥabīb ibn Aws al-Ṭāʾī, Abu Tamam lahir di kota Jirjā, Mesir, dan tumbuh dalam lingkungan sastra yang kaya. Dia menunjukkan bakat puisi sejak usia muda dan terus mengembangkan kemampuannya melalui pembacaan dan studi yang intensif. Abu Tamam dikenal dengan panjang puisinya dan keahliannya dalam menggambarkan alam dan kehidupan manusia dengan kata-kata yang indah dan penuh warna. Karyanya mencakup berbagai tema, termasuk keindahan alam, cinta, kehidupan, dan nilai-nilai moral. Salah satu karya paling terkenal Abu Tamam adalah "Hikayat al-Habsyi" (Cerita Pemuda Habsyi), yang merupakan panegirik panjang yang diabdikan untuk memuji pemuda Habsyi bernama Sa'id bin Malik. Puisi ini memperlihatkan kepiawaian Ab...

KHASH, 'AMM DAN TAKHSISH DALAM USHUL FIQIH

BAB I PENDAHULUAN Salah satu unsur yang paling penting dalam   mengkaji sumber hukum Islam adalah Ushul fiqih. Di dalam Ushul fiqih, banyak sekali pedoman atau kaidah-kaidah yang membantu dalam menetapkan   hukum baik itu dalam Al-Quran atau pun sunnah. Dengan kaidah ini diharapkan untuk dapat mengambil dalil dari sumber hukum islam secara benar, dapat menjelaskan nash syara’ yang masih samar, menyelesaikan kontradiksi antara nash yang masih samar dan juga mentakwilkan nash yang ada bukti takwilnya, juga hal-hal lain yang berhubungan dengan pengambilan hukum dari nashnya. Dan diantara salah satu kaidah yang digunakan dalam istinbath adalah mengenai lafadz khash dan (kafadz khusus) dan lafadz ‘amm (lafadz umum) yang dengan ini kita akan mengetahui apakah nash syara’ tersebut sudah khusus dan sudah tidak perlu adanya pergeseran makna selama tidak ada nash lain yang mengharuskannya dan juga akan mengetahui apakah lafadz ini masih berlaku umum sehingga membutuhkan dali...