Langsung ke konten utama

Biografi Imam Khatib Al-Qazwini, Sang Orator yang Piawai Mengolah Bahasa

Kitab Al Idhah Fi 'Ulum al Balaghah. Salah Satu Karya Imam al Khatib al Qazwini


 

Biografi Imam Al-khatib Al-Qazwini

Sang Orator yang Piawai Mengolah Bahasa

Nama lengkapnya adalah Muhammad bin Abdurrahman bin Umar bin Ahmad bin Muhammad bin Abdul Karim bin Hasan bin Ali bin Ibrahih bin Ali bin Ahmad bin Dalf bin Abi Dalf al-‘ajali al-Qazwini. Ia lahir pada tahun 666 H di Mosul (sekarang merupakan salah satu kota di Irak) dan tinggal di daerah Romawi Timur bersama keluarganya. Di sana ia fokus belajar ilmu agama hingga menyandang jabatan hakim di usia kurang 20 tahun. Kemudian ia dan saudaranya mengembara ke Damaskus.

Sejak kecil, ia dikenal sebagai orang yang tampan dan cerdas. Ia pun pintar dalam beretorika sehingga setiap tuturannya mudah untuk dipahami para petuturnya. Menurut Ibrahim Syamsudin, Imam Qazwini adalah seorang dermawan, ia tidak segan untuk memberikan hartanya kepada fakir miskin. Ia juga sangat piawai dalam mengolah bahasa sehingga ia sering disuruh untuk memberikan ceramah atah khutbah di khalayak umum. Oleh karena itu, ia diberi gelar “Alkhatib”.

            Imam Qazwini merupakan seorang ulama yang bermadzhab syafi’iyyah dalam permasalahan fiqih dan mengikuti Abu Hasan Al-Asy’ari dalam ilmu tauhid. Sebagaimana ulama-ulama lainnya pada masa itu, ia juga mengembara ke berbagai negara untuk menuntut ilmu. Irak, Damaskus dan Mesir yang merupakan pusat kajian keilmuan pada saat itu adalah daerah-daerah yang pernah ia kunjungi. Beberapa gurunya yang memberikan  pengaruh pada pemikirannya adalah Syaikh al Izz al Farutsi, Syaikh al Iky, dan Syaikh al Burzali.

            Selain dikenal sebagai ulama ahli balaghah, Imam Qazwini pun ternyata sangat menyukai ushul fiqih. Ia lama menekuni ilmu ini bersama gurunya, yaitu syaikh al Burzali. Namun ia tidak pernah membuat tulisan tentang ushul fiqih sehingga tidak banyak orang yang mengetahuinya. Di antara karyanya yang paling fonumental adalah kitab al Takhish yang merupakan ringkasan dari kitab al-Miftah yang ditulis oleh ahli balaghah terkemuka, yaitu Imam Assakaki. Selain kitab itu, ada beberapa karyanya yang lain yang masih abadi hingga saat ini, yaitu kitab al Idhah fii ‘Ilm al Balaghah dan al Musyadzar al Murjani min Syi’r al Urjani.

            Menurut Imam Dzahabi yang dikutip oleh Ibnu Hajar al Atsqalani, Imam Qazwini wafat pada usia 73 tahun di pertengahan bulan Jumadil Ula tahun 739 H. Sejalan dengan pendapat Imam Dzahabi, Ibnu Katsir pun menuturukan bahwa ia wafat sekitar umur 70 tahun-an dan dikuburkan di daerah Shofia.

            Bagi sahabat yang ingin membaca salah satu karyanya, yaitu Al Idhah Fii ‘Ilm al Balaghah bisa download dibawah ini:

https://bit.ly/alidhahfiilmalbalaghah

Referensi:

Syamsudin, Ibrahim. 2003. Talkhish al Miftah. Beirut: Daar al Kutub al ‘Ilmiyyah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

INSYAIYAH THALABI DAN GHAIRU THALABI

INSYAIYAH THALABI DAN GHAIRU THALABI BAB I PENDAHULUAN   A.     Latar Belakang             Dalam keilmuan bahasa Arab, dikenal ada 12 fan keilmuan yang menjadi pusat kajian para linguis Arab. Salah satunya adalah ilmu balaghah. Ilmu balaghah adalah ilmu yang mempelajari tentang retorika baik secara lisan maupun tulisan. Para linguis arab membagi ilmu ini ke dalam tiga cabang, yaitu ma’ani, bayan dan badi’. Setiap cabang dalam ilmu ini mempunyai kajian dan tujuan yang berbeda-beda.             Salah satu cabang yang menarik adalah ilmu ma’ani. Ilmu ma’ani adalah ilmu yang mempelajari tentang kesesuaian antara perkataan atau tulisan yang dilontarkan seseorang agar bisa dipahami secara jelas. Bukan hanya jelas, tetapi untuk mengetahui penekanan dan konteks dibalik suatu ungkapan. Sehingga secara garis besar, para ahli ma’ani membagi-bagi bahasan ilmu...

Biografi Abu Tamam, Sang Penyair Masa Kekhalifahan Abbasiyah

Abu Tamam (788-845 M) adalah seorang penyair Arab terkenal yang hidup pada masa Kekhalifahan Abbasiyah di abad ke-9. Dia dikenal sebagai salah satu penyair terbaik pada masanya, dan karyanya memiliki pengaruh yang kuat dalam sastra Arab. Lahir dengan nama 'Al-Ḥabīb ibn Aws al-Ṭāʾī, Abu Tamam lahir di kota Jirjā, Mesir, dan tumbuh dalam lingkungan sastra yang kaya. Dia menunjukkan bakat puisi sejak usia muda dan terus mengembangkan kemampuannya melalui pembacaan dan studi yang intensif. Abu Tamam dikenal dengan panjang puisinya dan keahliannya dalam menggambarkan alam dan kehidupan manusia dengan kata-kata yang indah dan penuh warna. Karyanya mencakup berbagai tema, termasuk keindahan alam, cinta, kehidupan, dan nilai-nilai moral. Salah satu karya paling terkenal Abu Tamam adalah "Hikayat al-Habsyi" (Cerita Pemuda Habsyi), yang merupakan panegirik panjang yang diabdikan untuk memuji pemuda Habsyi bernama Sa'id bin Malik. Puisi ini memperlihatkan kepiawaian Ab...

KHASH, 'AMM DAN TAKHSISH DALAM USHUL FIQIH

BAB I PENDAHULUAN Salah satu unsur yang paling penting dalam   mengkaji sumber hukum Islam adalah Ushul fiqih. Di dalam Ushul fiqih, banyak sekali pedoman atau kaidah-kaidah yang membantu dalam menetapkan   hukum baik itu dalam Al-Quran atau pun sunnah. Dengan kaidah ini diharapkan untuk dapat mengambil dalil dari sumber hukum islam secara benar, dapat menjelaskan nash syara’ yang masih samar, menyelesaikan kontradiksi antara nash yang masih samar dan juga mentakwilkan nash yang ada bukti takwilnya, juga hal-hal lain yang berhubungan dengan pengambilan hukum dari nashnya. Dan diantara salah satu kaidah yang digunakan dalam istinbath adalah mengenai lafadz khash dan (kafadz khusus) dan lafadz ‘amm (lafadz umum) yang dengan ini kita akan mengetahui apakah nash syara’ tersebut sudah khusus dan sudah tidak perlu adanya pergeseran makna selama tidak ada nash lain yang mengharuskannya dan juga akan mengetahui apakah lafadz ini masih berlaku umum sehingga membutuhkan dali...